Kampusnya Dituduh Radikal, Mantan Ketua Alumni PKN STAN Buka Suara

- 12 Juli 2020, 10:45 WIB
PKN STAN //Instagram/@putrinurulaz_

PORTAL JEMBER - Moratorium penerimaan mahasiswa baru di Politeknik Keuangan Negara Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (PKN STAN) menjadi perhatian banyak orang. Muncul sejumlah dugaan dan sikap menyayangkan.

Salah satu tokoh yang turut bersuara terkait dengan moratorium PKN STAN itu adalah Sudirman Said, Mantan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) periode 2014-2019, yang juga merupakan Ketua Alumni STAN 2014-2016.

Sudirman menyayangkan jika penutupan sementara PKN STAN karena alasan efisiensi anggaran. Pasalnya, investasi di pendidikan tidak akan pernah rugi. Ia juga menyayangkan jika moratorium PKN STAN dikait-kaitkan dengan isu radikalisme. 

Baca Juga: Imbas Moratorium PKN STAN, Usaha Sekitar Bisa Kolaps

“Jika benar penutupan STAN karena isu radikalisme, ini akan jadi skandal bernegara. Sejarah akan mencatat kekeliruan pandangan dan kekeliruan langkah ini. Semoga Bu Menteri dan seluruh penentu kebijakan dalam urusan STAN ini sempat memikirkan dalam-dalam,” kata Sudirman Said dikutip PikiranRakyat-Cirebon.com dari RRI.

Lebih lanjut, Sudirman Said mengungkapkan orang yang menuduh radikal harus belajar membedakan antara gairah beragama (kesalehan), usaha menjaga kelurusan hidup, dan pandangan radikal dalam politik.   

Ia menegaskan, yang memberi stempel radikal lebih banyak mereka yang memiliki cara pandang politik. Berbahaya jika cap radikal disematkan oleh orang yang tidak menjalankan agama dengan baik, apalagi oleh orang yang berbeda agama.   

Baca Juga: PKN STAN Tutup hingga 2024, Netizen: Ambyar Harapanku

"Menjadi orang yang saleh, menjalankan agama dengan segala simbolnya, sesungguhnya sama dengan mengamalkan Pancasila, sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Kalau rajin mengaji, rajin sembahyang, menampilkan simbol beragama disebut radikal, itu sama artinya dengan mengatakan yang mengamalkan Pancasila adalah radikal,” tegas Sudirman.

Halaman:

Editor: Dzikri Abdi Setia


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X