Kemana-mana Rapid Test, Sudah Jadi Bisnis, Netizen: Semoga Laknat Dunia Akhirat

- 5 Juli 2020, 09:04 WIB
ILUSTRASI pemeriksaan infeksi virus corona dengan metode rapid test.* //Humas Pemprov Jawa Timur

PORTAL JEMBER – Syarat adanya surat hasil rapid test saat bepergian menjadi polemik. Kritik datang dari pengamat penerbangan dan anggota Ombudsman RI Alvin Lie.

Ia menilai, ada indikasi rapid test telah menjadi ajang bisnis. Indikasi itu tampak dalam beberapa hal, seperti munculnya drive thru rapid test, adanya tarif promo seperti yang terlihat di kawasan Bandara Soekarno-Hatta.

Indikasi lain yang tampak, kata dia, adanya sejumlah maskapai penerbangan yang menggeber promo untuk memfasilitasi penumpang yang hendak terbang. 

Baca Juga: Jika Jokowi Reshuffle Kabinet, dari Susi Pudjiastuti sampai Dahlan Iskan Dijagokan Masuk Istana

Citilink, anak usaha Garuda Indonesia, menggratiskan uji cepat bagi penumpangnya dalam jumlah tertentu, yakni 500 penumpang. 

Lion Air Group juga mengenakan tarif rapid test hanya Rp 95.000 untuk penumpangnya.

Menurut Alvin, di negara lain, untuk para pelawat domestik berlaku penekanan pada protokol standar kesehatan. Diantaranya pemakaian masker, jaga jarak, dan pengukuran suhu tubuh.

Baca Juga: 3 Baju yang Paling Banyak Dicari Selama Masa Pandemi

“Di negara-negara lain, rapid maupun PCR hanya untuk orang yang products gejala. Ketersediaan alat tes diutamakan untuk mereka, tidak dibisniskan sebagaimana di sini,” ujar Alvin, seperti dikutip PORTAL JEMBER dari WartaEkonomi.co.id, Kamis 2 Juli 2020.

Halaman:

Editor: Hari Setiawan

Sumber: Warta Ekonomi, Rakyat Merdeka


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X