Lebih Dahulu Mana, Puasa Syawal atau Mengganti Puasa Ramadhan

- 27 Mei 2020, 16:35 WIB
Ilustrasi masjid. /pixabay

PORTAL JEMBER - Salah ibadah yang utama di bulan Syawal adalah berpuasa 6 hari di dalamnya.

Ibadah ini dinilai utama karena Rasulullah langsung yang menyampaikan, bahwa menambahi puasa yang telah dilakukan di bulan Ramadhan dengan puasa Syawal menjadikan seseorang dinilai persis seperti puasa setahun penuh.
 
Permasalahan muncul ketika seseorang punya hutang puasa bulan Ramadhan karena melewatkan beberapa hari dengan atau tanpa alasan tertentu.
 
 
Bagi yang punya hutang puasa, lebih didahulukan mana antara mengganti puasa yang telah ditinggalkan terlebih dahulu ataukah melakukan puasa syawal yang waktunya lebih terbatas.
 
Dalam masalah ini terdapat dua pandangan:
 
Pertama, Boleh puasa Syawal terlebih dahulu sebelum mengqodlo' tanpa disertai kemakruhan.
 
 
Demikian pula puasa-puasa sunah lain juga boleh dilaksanakan sebelum puasa qadla' Ramadhan terselesaikan.
 
Pendapat ini merupakan salah satu pendapat dalam madzhab imam Ahmad.
 
Kedua, makruh berpuasa Syawal sebelum menyelesaikan qadla' Ramadhan. 
 
Pendapat ini adalah pendapat dalam madzhab Syafi'i dan Maliki.
 
 
Para ulama dalam golongan pertama dan kedua ini berpendapat bahwa waktu qodlo' itu luas, bisa dilaksanakan sepanjang tahum sedangkan puasa Syawal hanya satu bulan saja, oleh karena itu keduanya membolehkan puasa Syawal terlebih dahulu sebelum qodlo'.
 
Pendapat ketiga, Tidak boleh puasa Syawal sebelum qodlo'nya terselesaikan.
 
Pendapat ini merupakan salah satu pendapat dalam madzhab Hanbali dengan berargumen bahwa sesuatu yang sunnah tidaklah boleh didahulukan atas perkara wajib.
 
 
Dalam hadits puasa Syawal pun disebutkan "Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengerjakan puasa 6 hari di bulan Syawal" sehingga mereka memahami bahwa puasa harus dituntaskan terlebih dahulu untuk mendapatkan keutamaan Syawal.
 
Pendapat keempat, puasa Syawal bisa diraih keutamaannya sekaligus dengan melakukan qodlo' Ramadhan di Bulan Syawal.
 
Pendapat ini disampaikan juga oleh beberapa ulama dalam madzhab Syafi'i seperti as-Suyuthi, Dr. Ali Jum'ah dan ulama lain.
 
 
As-Suyuthi berkata dalam al-Asybah wa al-Nazhair : "Dan jika seseorang berpuasa wajib baik puasa qodlo' atau puasa nadzar bertepatan dengan hari Arafah maka baginya pahala puasa wajib sekaligus puasa sunnah hanya dengan mengerjakan satu puasa saja.
 
Dalam konteks puasa Syawal pun demikian.
 
Jika seseorang punya hutang puasa Ramadhan 5 hari kemudian dia menqodlo'nya di bulan Syawal maka ia cukup menambah 1 hari saja karena 5 hari qodlo' itu sudah sekaligus mendapat keutamaan puasa Syawal juga.
 
 
Demikian perbedaan pendapat ulama terkait puasa Syawal dan hubungannya denhlgan qodlo' Ramadhan. ***

Editor: Dzikri Abdi Setia


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X