Perbedaan antara Khutbah Jumat dengan Khutbah Idul Fitri

- 23 Mei 2020, 14:05 WIB
Ilustrasi Idul Fitri. /Pixabay

PORTAL JEMBER -  Ibadah Jumat dan Ibadah Idul Fitri adalah ibadah yang sama-sama dilaksanakan khutbah didalamnya.

Walaupun memiliki persamaan seperti: Sama persis rukunnya yaitu dilaksanakan dua kali, membaca tahmid, syahadat, shalawat kepada Nabi Muhammad SAW ayat, wasiat takwa serta doa.
 
Sama-sama disampaikan oleh khatib laki-laki. Khatib adalah orang yang membawakan atau menyampaikan khutbah.
 
 
Maka jika jamaah shalat id itu perempuan semua maka tidak ada syariat khutbah.
 
Namun demikian, khutbah yang dilaksanakan di hari Jumat tentu berbeda dengan khutbah dan yang dilaksanakan di shalat Idul Fitri.
 
Diantara perbedaan-perbedaan antara khutbah Jumat dan khutbah id adalah:
 
 
Pertama, khutbah Jumat dilaksanakan sebelum pelaksanaan shalatnya sedangkan khutbah id baik Idul fitri atau Idul Adha dilaksanakan setelah shalat id-nya.
 
Kedua, Khutbah Jumat memiliki syarat tertentu yang tidak mesti ada di khutbah Idul Fitri.
Misalnya menurut madzhab syafi'i, khutbah Jumat harus didengarkan oleh minimal 40 jamaah sedangkan khutbah id didengarkan oleh satu orang pun tetap sah.
 
Walaupun terjadi perbedaan madzhab berapakah jumlah minimal yang mendengarkan khutbah Jumat namun setiap madzhab menetapkan jumlah tertentu.
 
 
Ketiga, Mendengarkan khutbah Jumat hukumnya wajib. Artinya jika ada jamaah yang tidak mendengarkannya namun justru ramai atau berbicara dengan orang lain maka Jumatnya tidak sah.
 
Sedangkan mendengarkan khutbah Idul Fitri hukumnya sunnah.
 
Artinya jika seseorang tiba-tiba harus berbicara di tengah khutbah maka tidaklah berdosa.
 
 
Atau misalnya seseorang harus meninggalkan masjid/jamaah kangsung aat usai shalat pun tetap sah.
 
Namun hal ini tidak berarti seseorang bisa seenaknya berbicara saat khatib menyampaikan khutbah id.
 
Keempat, khutbah Jumat diawali dengan adzan oleh muadzin/bilal sedangkan khutbah id diawali dengan takbir yang dibaca oleh khatib.
 
 
Dalam madzhab syafi'i, disunnahkan bagi khatib untuk membuka khutbahnya dengan takbir. Walaupun takbir tersebut bukan sebenarnya bukan bagian dari khutbah.
 
Pada khutbah pertama, khatib membuka dengan takbir 9 kali.
 
Pada khutbab kedua, setelah khatib duduk antara dua khutbah, khatib juga membuka dengan takbir tujuh kali. ***

Editor: Dzikri Abdi Setia


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X