Armenia dan Azerbaijan Saling Tuduh Pelanggaran Gencatan Senjata

- 19 Oktober 2020, 07:30 WIB
Ilustrasi bendera Armenia (kiri) dan Azerbaijan. /In Home Land Security
 
PORTAL JEMBER - pada Sabtu 17 Oktober 2020, Kementerian luar negeri Armenia dan Azerbaijan mengatakan bahwa mereka akan mendeklarasikan "gencatan senjata kemanusiaan" mulai tengah malam, setelah hampir tiga minggu bertempur memperebutkan wilayah yang disengketakan.
 
Hal tersebut akan menjadi upaya kedua dari pihak yang bertikai untuk mengumumkan gencatan senjata demi memadamkan bentrokan di wilayah Nagorno-Karabakh yang disengketakan selama hampir tiga minggu. 
 
 
"Republik Armenia dan Republik Azerbaijan telah menyetujui gencatan senjata kemanusiaan yang akan dilakukan pada 18 Oktober, waktu setempat," kata kementerian luar negeri Armenia pada Sabtu malam.
 
Kementerian luar negeri Azerbaijan dalam pernyataan yang sama mengkonfirmasi langkah tersebut.
 
Pengumuman itu muncul setelah Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengadakan pembicaraan telepon dengan mitranya dari Armenia dan Azerbaijan
 
Pembicaraan tersebut menyoroti kebutuhan untuk secara ketat mengikuti kesepakatan gencatan senjata yang disepakati di Moskow Sabtu lalu, menurut kementerian luar negeri Rusia.
 
Pengumuman datang setelah menteri luar negeri Rusia mengadakan pembicaraan dengan pihak yang bertikai.
 
Kementerian di Moskow mengatakan bahwa kedua belah pihak juga telah menegaskan pentingnya memulai pembicaraan "substantif" untuk menyelesaikan konflik.
 
Armenia dan Azerbaijan Sabtu lalu telah menyetujui gencatan senjata setelah melakukan 11 jam pembicaraan. 
 
Pembicaraan tersebut dimediasi oleh Lavrov di Moskow, tetapi keduanya juga saling menuduh telah melanggar kesepakatan tersebut.
 
Nagorno-Karabakh, wilayah Azerbaijan yang telah memisahkan diri, sebagian besar dihuni oleh etnis Armenia yang didukung oleh Yerevan, telah menjadi tempat bentrokan mematikan sejak 27 September.
 
 
Dikutip PORTAL JEMBER dari laman Dawn, menurut seorang pejabat setempat, lebih dari 700 orang tewas dalam bentrokan tersebut.
 
Wilayah pegunungan barat Azerbaijan masih di bawah kendali separatis Armenia sejak gencatan senjata tahun 1994, mengakhiri perang brutal yang menewaskan 30.000 orang.
 
Sebelumnya pada hari Sabtu, kementerian luar negeri Republik Azerbaijan mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya akan mengutuk serangan yang dilakukan oleh Armenia.
 
Pernyataan tersebut berbunyi, “Pada malam tanggal 17 Oktober, angkatan bersenjata Armenia menyerang kota Azerbaijan di Kota Ganja dengan rudal balistik." 
 
"Serangan keji ketiga berturut-turut di kota terbesar kedua sejak agresi baru Armenia terhadap Azerbaijan, yang terletak jauh dari garis depan pertempuran, menyebabkan banyak korban yang berjatuhan, diantaranya 12 warga sipil, termasuk dua anak di bawah umur tewas, dan lebih dari 40 orang terluka," kementerian luar negeri Republik Azerbaijan
 
“Penargetan warga sipil yang disengaja dan tidak pandang bulu di Armenia merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap norma dan prinsip hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional, serta melanggar gencatan senjata kemanusiaan yang telah diumumkan." 
 
 
"Pembunuhan yang disengaja atas orang-orang yang tidak bersalah merupakan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, pemimpin Armenia harus bertanggung jawab penuh atas kejahatan ini," lanjutnya.
 
Dia juga mengatakan bahwa agresi berkelanjutan di Armenia yang merupakan serangan kejam yang ditujukan terhadap warga sipil harus dihentikan, dan komunitas internasional tidak boleh menutup mata atas tindakan tidak manusiawi Armenia terhadap rakyat Azerbaijan.
 
“Kami mengutuk cara dilakukan oleh Armenia terhadap warga sipil Azerbaijan dan mendesak negara agresor ini untuk menghentikan kejahatan perangnya," ucap kementerian luar negeri Republik Azerbaijan
 
Republik Azerbaijan menyatakan bahwa berdasarkan mekanisme hukum nasional dan internasional para pelaku kejahatan ini akan dibawa ke pengadilan. ***

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Dawn


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X