Protes Black Lives Matter di Australia Mengecam Penganiayaan dan Kematian Bangsa Aborigin

- 7 Juni 2020, 10:18 WIB
Aksi Protes Black Lives Matter di Australia. /ABC News
 
PORTAL JEMBER - Kematian George Floyd atas kebrutalan oknum polisi di Minneapolis menyebabkan protes Black Lives Matter meluas ke penjuru Amerika Serikat dan dunia.
 
Pada Sabtu, negara bagian di Australia mengerahkan massa ke jalanan untuk memprotes penganiayaan dan kematian orang-orang asli Australia yaitu bangsa Aborigin.
 
Seperti tragedi yang menewaskan George, warga Australia menentang kematian orang-orang Aborigin dalam tahanan polisi.
 
 
Dilansir PORTAL JEMBER dari media nasional Australia, ABC News, 6 Juni 2020, warga memulai aksi di Brisbane, ibu kota Queensland, dan ibu kota Australia Selatan, Adelaide.
 
Pada Sabtu sore, massa yang besar juga berkumpul di Sydney, ibu kota New South Wales, dan ibu kota Victoria, Melbourne.
 
Protes di Sydney terjadi setelah Pengadilan New South Wales mengizinkan penyelenggaraan protes meskipun kebijakan pembatasan sosial masih berlaku.
 
 
Keputusan dari pengadilan itu membuat mereka yang berpartisipasi dalam aksi tidak dapat dikenai sanksi karena melanggar perintah kesehatan masyarakat.
 
"Ini adalah salah satu momen itu, saat kamu menentang sistem, dan sistem tersebut telah ditempatkan melawan orang-orang Bangsa Pertama selama ratusan tahun," kata David Shoebridge, anggota parlemen dari partai Greens.
 
"Tapi kadang-kadang, kamu mendapat momen-momen saat kamu harus menang melawan sistem itu," imbuhnya.
 
 
Di antara puluhan ribu orang yang mengikuti aksi, terdapat relawan dan penyelenggara yang membagikan masker dan memompa hand sanitizer ke tangan para peserta aksi.
 
Orang-orang Aborigin seperti Shanaya Donovan, peserta aksi dari suku Gadigal, turut serta membanjiri jalanan di Sydney.
 
Shanaya bersikeras mengikuti protes meskipun ada potensi untuk dipenjara atau didenda karena dia selalu diprofilkan secara rasial.
 
 
"Saya telah diikuti di sekitar Kmart, seakan-akan terlihat seperti saya hendak mencuri sesuatu," keluhnya.
 
"Saya telah belajar bahwa saya harus pergi menggunakan seragam pekerjaan saya, jadinya tidak terlihat seperti saya akan mengambil apapun. Saya ditatap polisi saat berada di tempat umum," tambahnya.
 
Menurut Asisten Komisaris Polisi NSW Mick Willing, pemimpin operasi di Sydney, terdapat sejumlah laporan positif dari seluruh negara bagian NSW.
 
 
Dia mengatakan bahwa hanya terjadi tiga penangkapan dari 20.000 peserta aksi di Sydney, yaitu seorang laki-laki berusia 15 tahun dan seorang pria berusia 23 tahun atas dugaan keributan, dan seorang pria berusia 51 tahun karena melanggar kedamaian.
 
"Saya telah berbicara kepada para komandan yang mengatakan bahwa mereka senang dengan semua protes yang pada dasarnya damai," kata Mick.
 
"Awalnya, kami memiliki pekerjaan yang sulit di Sydney karena operasi polisi sudah berlangsung ketika keputusan Mahkamah Agung dibatalkan, tetapi kami dengan cepat mengubah rencana untuk memastikan acara tersebut dapat berjalan dengan lancar."
 
 
"Ada beberapa kekhawatiran yang ditunjukkan oleh para petugas di lapangan tentang pembatasan fisik, dan sementara beberapa orang diajak bicara, tidak ada tindakan polisi resmi yang diperlukan," imbuhnya. ***

Editor: Dzikri Abdi Setia


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X