Tiongkok: AS Berstandar Ganda, Sebut Perusuh Hong Kong Pahlawan, di Negaranya Sendiri Perusuh

- 2 Juni 2020, 07:32 WIB
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian. /ANTARA

PORTAL JEMBER - Tensi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok di saat kerusuhan bersentimen rasial pecah di AS tidak berkurang.

Dalam perkembangan terbaru, Tiongkok menyangkal tuduhan Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat Robert O'Brien yang menyebut ada kekuatan asing yang mengambil keuntungan dari unjuk rasa rasial atas kematian George Floyd.

Pernyataan itu memang tidak secara langsung mengarah ke Beijing. Tetapi, tuduhan tersebut dinilai sangat tidak berdasar.

Baca Juga: Penumpang Pesawat Sekarang Harus Datang 4 Jam Sebelum Jadwal Terbang

"Justru penyebutan pengunjuk rasa di Hong Kong sebagai pahlawan, sementara pengunjuk rasa di AS sebagai perusuh jelas menunjukkan standar ganda," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China (MFA) Zhao Lijian kepada pers, Senin 1 Juni 2020.

Menurut dia, Tiongkok tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain dan masyarakat di dunia juga menyaksikan apa yang sedang terjadi di AS.

Oleh sebab itu, Zhao mendesak para politikus AS memikirkan urusannya sendiri.

Baca Juga: Cukup Dua Jam, Lumajang Sudah Bisa Mengetahui Hasil Tes Swab

"Tiongkok menentang tindakan pelanggaran hukum dalam bentuk apa pun dan kami berharap pihak AS menyelesaikan isu-isu diskriminasi rasial domestiknya," katanya, seperti dikutip dari Antara.

Zhao menyoroti bahwa penyebab unjuk rasa di Hong Kong dan AS sangat berbeda.

"Upaya separatisme dan kekerasan merupakan tindakan yang sangat mengganggu keamanan nasional karena ada pasukan internal dan asing yang berusaha memisahkan satu negara, menggulingkan pemerintahan, dan mengorganisasikan para aktivis teroris," sambung Zhao.

Baca Juga: Gubernur Jatim Minta Kabupaten Se-Jatim Siap Hadapi Waktu Tanam di Musim Kemarau

Zhao menambahkan bahwa banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama. Mengapa AS memuliakan para pengunjuk rasa dan perusuh di Hong Kong sebagai pahlawan, sedangkan masyarakat AS yang berunjuk rasa atas diskriminasi rasial disebut sebagai perusuh.

"Kenapa pihak AS mengkritik tindakan hukum yang dilakukan oleh polisi Hong Kong terhadap pengunjuk rasa, sementara AS mengancam akan menembak para pengunjuk rasa dan bahkan mengerahkan pasukan Pengawal Nasional AS untuk menekan mereka?" cetusnya dengan nada tanya.

Baca Juga: Di Tengah Pandemi Covid-19, Warga Yogyakarta Punya Cara Tersendiri untuk Refreshing

Menurut Zhao, praktik-praktik AS itu merupakan tindakan standar ganda sehingga patut diwaspadai.***

Halaman:

Editor: Hari Setiawan

Sumber: Antara


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X