Ramadhan sebagai Modal Spiritual

- 4 Mei 2020, 12:18 WIB
Dr. Rahmad Hakim, M.MA. //Dok. Pribadi

Oleh: Dr. Rahmad Hakim, M.MA*

Bulan Ramadhan identik dengan puasa. Selama sebulan penuh berpuasa, setiap Muslim ditempa oleh lapar dan dahaga sekaligus menahan hawa nafsu (perbuatan buruk) indra penglihatan, pendengaran, ucapan, dan tindakan.

Menurut Ibnu Khaldun, terbiasa lapar meningkatkan kecerdasan, memperhalus perangai, menguatkan imunitas, dan memperindah badan. Sebaliknya, terbiasa kenyang melemahkan imunitas, menyebabkan malas, memperburuk perangai dan badan.

Tujuan dari puasa adalah untuk menjadikan Mukmin yang Muttaqin (QS. al-Baqarah [2]: 183). Yaitu, Mukmin yang senantiasa mengingat Allah sekaligus bersyukur atas segala nikmat yang diberikan (QS. al-Baqarah [2]: 185).

Baca Juga: Awas! Rumah Sakit Rujukan Covid-19 di Surabaya Sudah Overload

Dalam puasa juga terdapat nilai kejujuran. Bahwa hanya mereka yang berpuasa dan Allah saja yang tahu. Bahwa dia benar-benar menahan lapar dan haus sekaligus menahan hawa nafsu. Puasa tidak dapat dibuktikan secara verbal an sich, namun harus terbukti dengan tindakan (kebajikan).

Saking utamanya ibadah ini, Allah sendiri yang akan membalasnya dengan pahala yang berlipat (Hadis Qudsi). Berbeda dengan ibadah lain, yang memiliki rumus mengikat bahwa 1 kebajikan dibalas 700 kali lipat (QS. Al-Baqarah [2]: 261).

Puasa juga menanamkan sikap optimis bagi pelakunya. Sebab, doa orang yang berpuasa tak pernah tertolak (HR. Tirmidzi). Lebih-lebih pada masa darurat pandemi virus Corona (COVID-19) seperti saat ini.

Baca Juga: Ingin Magang di Ditjen Dikti? Simak Persyaratan dan Tanggalnya

Halaman:

Editor: Hari Setiawan


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X