Uang yang Beredar di Daerah Selama Lebaran Diperkirakan Turun 80 Persen

- 18 Mei 2020, 06:08 WIB
Ilustrasi uang rupiah. /Pixabay/ Mohamad Trilaksono

PORTAL JEMBER - Imbas dari larangan mudik diperkirakan akan sangat mempengaruhi perputaran uang di daerah.

Dengan adanya larangan itu, maka aliran dana dari kota ke desa akan sangat jauh berkurang.

Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengatakan, peredaran uang ke daerah tujuan mudik saat Idul Fitri 1441 diproyeksi turun 80 persen.

Baca Juga: Telur Konsumsi Dijual di Pasar, Begitu Dibuka, Eh... Nongol Anak Ayam

"Yang tadinya diperkirakan aliran uang dari Jakarta ke daerah tujuan wisata sekitar Rp 10,8 triliun, diperkirakan akan turun 80 persen atau hanya sekitar Rp 2 triliun," kata Sarman dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu 17 Mei 2020.

Dana itu pun, seperti dikutip dari Antara, hanya mengalir melalui kiriman/transfer via bank atau kantor pos dari warga yang masih punya simpanan atau kelebihan untuk dibagikan kepada keluarga di kampung.

"Sehingga Idul Fitri tahun ini tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di daerah. Harapan para pelaku UKM untuk mendapat omzet dan keberuntungan saat momen Lebaran kali ini pupus," tegasnya.

Baca Juga: Jaga Kelangsungan Perusahaan, Ini Nasib Karyawan Kontrak Garuda Indonesia

Pada kondisi normal, aliran uang dari kota ke daerah tujuan mudik saat puncak Idul Fitri selalu naik dari tahun ke tahun.

Dalam kondisi normal, uang yang mengalir ke daerah tujuan mudik tahun 2020 ini diperkirakan sebesar Rp 10,8 triliun, naik 13,7 persen dari tahun 2019 sebesar Rp 9,5 triliun.

Asumsi Rp 10,8 triliun itu dihitung dari jumlah pemudik dari tahun ke tahun yang mengalami kenaikan. Jika tidak ada covid-19, diperkirakan jumlah pemudik dari Jabodetabek ke berbagai daerah tujuan mudik diperkirakan mencapai 7.640.288 jiwa atau setara 2.546.763 keluarga.

Baca Juga: Roll Royce Seharga Rp 12 Miliar Milik Raffi Ahmad Diisi Bensin Eceran oleh Denny Cagur

Jika setiap keluarga membawa uang rata-rata Rp 4.250.000 juta, maka dana yang mengalir ke daerah tujuan mudik diperkirakan mencapai Rp 10,8 triliun.

Aliran uang dari kota ke daerah ini dinilai mampu menggerakkan perekonomian karena para pemudik akan banyak membelanjakan uangnya di kawasan destinasi pariwisata, oleh-oleh khas daerah, aneka produk UKM seperti makanan/kuliner dan kerajinan daerah, batik dan uang lebaran/saku kepada keluarga.

Kendati kondisinya berat saat Lebaran ini, dunia usaha masih melihat harapan karena kebijakan pemerintah memindahkan libur Lebaran ke akhir tahun.

Baca Juga: Ribuan Rumah di Surabaya Tak Teraliri Air Setelah Pipa PDAM Jebol Karena Proyek UIN Sunan Ampel

"Dengan catatan bahwa kondisi ekonomi kita sudah mulai normal dan pendapatan masyarakat sudah mulai membaik sehingga ada kemungkinan mudik dan liburan ke kampung halaman," katanya.

Oleh karena itu, Sarman berharap pemerintah benar-benar mampu mengendalikan penyebaran covid-19 secepatnya melalui regulasi dan kebijakan yang konsisten, memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan standar protokol yang jelas dan tegas.

"Sehingga badai ini cepat berlalu, dunia usaha dapat aktif dan bergairah kembali," katanya.***

Halaman:

Editor: Hari Setiawan

Sumber: Antara


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X